Selama beberapa dekade, di rumah dan sekolah kita diajarkan sebuah narasi tunggal: “Belajar yang giat, dapatkan gelar, cari pekerjaan yang mapan, maka hidupmu akan aman.”
Kita, kelas menengah Indonesia, adalah mereka yang mematuhi aturan main tersebut. Kita bekerja keras dari fajar hingga petang, membayar pajak dengan taat, dan menjadi roda penggerak utama yang menopang ekonomi negara ini. Dimana di tahun 2024, perekonomian kelas menengah menyumbang sekitar 81,5% dari total konsumsi rumah tangga nasional. Ya, kita adalah tulang punggung negeri ini.
Namun hari ini, sebuah kebenaran pahit harus kita terima : Kita hidup di masa ketika bekerja keras tidak lagi selalu berarti hidup lebih baik.
Kami melihat semakin banyak keluarga kelas menengah yang bekerja semakin keras tetapi semakin sulit mempertahankan kualitas hidupnya.
Keadaan kadang tak seperti tampaknya. Gaya hidup urban yang tampak normal, dengan kendaraan cicilan yang terparkir rapih, ada kecemasan massal yang mencekik. Kelas menengah hari ini adalah kelompok yang paling rentan. Kita berada di area abu-abu—terlalu mandiri untuk menerima bantuan sosial dari pemerintah, namun terlalu tipis untuk bertahan saat badai ekonomi makro datang menerpa.
Satu gelombang PHK massal karena disrupsi teknologi, satu tagihan rumah sakit yang tak terduga, atau satu kesalahan tata kelola bisnis keluarga, sudah cukup untuk melempar kita turun kelas menjadi kelompok rentan dalam semalam.
Pendapatan tidak lagi tumbuh secepat biaya hidup, pekerjaan berubah lebih cepat daripada kemampuan untuk beradaptasi, dan kepastian masa depan semakin sulit diprediksi. Banyak orang bekerja tapi tanpa pertumbuhan. Banyak orang berjuang mempertahankan kehidupan, tetapi perlahan kehilangan kesempatan untuk naik kelas.
Kita sering menganggap bahwa kesalehan pribadi, kebaikan personal, dan kerajinan kita dalam beribadah adalah batas akhir dan puncak pencapaian sebagai manusia. Kita merasa selesai ketika urusan domestik dan spiritualitas privat kita sudah terpenuhi.
Namun, ketika sistem di luar sana sedang tidak sehat seperti sekarang ini, ketika perhatian dan kepedulian harusnya hadir, ketika kebaikan kolektif dibutuhkan untuk bisa menahan laju penurunan kelas ekonomi, nyatanya klaim-klaim kebaikan personal tadi hilang.
Seolah berkata “Kebaikan kita hanya berhenti di dalam rumah, dan bentuk kesalehan cukup sampai sebatas tempat ibadah saja. Tak ada kewajiban dan tanggung-jawab kami di luar sana.” Mengapa hal ini bisa terjadi?
Kita adalah pencipta realitas—sekaligus korban dari realitas itu sendiri. Kita menciptakan sistem ekonomi yang menuntut kompetisi tanpa batas. Lalu kita takut terhadap apa yang kita ciptakan sendiri. Alih-alih hadir menjadi solusi di tengah masyarakat, kita memilih lari dan bersembunyi dibalik klaim kebaikan serta kesalehan ritual, lalu menganggap itu sebagai puncak pencapaian tertinggi.
Kepedulian kita bukannya tidak ada, melainkan tertutup oleh klaim ego dan validasi diri yang memandang identitas diri terlalu tinggi, hingga mengaburkan relevansi realitas yang sebenarnya—kita merasa cukup hanya dengan menjadi baik dan rajin ibadah saja, tanpa harus mengurusi hal lainnya di luar sana.
“Akhirnya, kebaikan dipandang hanya sebatas ilmu yang tersimpan rapih di kepala, lalu disampaikan di sekolah-sekolah, majelis-majelis, dan acara—sebagai materi pengetahuan dan penghias seremoni belaka”
Sudah bisakah kita melihat saat ada anak-anak putus sekolah, pokok masalahnya bukan lagi ada pada si anak, melainkan pada kita semua sebagai sebuah lingkungan dan sistem yang gagal, dimana sering kali memilih untuk menutup mata selama tidak menimpa anak-anak kita sendiri.
Alih-alih peduli, kita memilih untuk bangga saat anak kita bisa sekolah dengan kualitas premium berstandar internasional. Alih-alih menjadi solusi, banyak sekolah kini lebih mengutamakan tujuan bisnisnya dibanding misi pendidikan dan sosialnya, hingga anak kehilangan kemerdekaannya untuk dapat terus melanjutkan pendidikannya, karena rapor dan ijazah yang tertahan.
Begitu pula dengan potret sosial lainnya di sekitar kita. Banyaknya pelanggaran, sengketa bisnis, hingga tindakan nekat yang merugikan masyarakat banyak, kadang masalahnya bukan murni karena niat jahat sejak awal, melainkan karena keadaan mendesak yang memaksa akibat tidak adanya jaring kepedulian antar-sesama.
Ketika seseorang jatuh dan tidak ada satu pun tangan yang terulur untuk membimbingnya bertransisi, keputusasaan akibat krisis realitas ini sering kali mengambil alih keadaan.
Tak ada yang salah dengan apa yang sudah terjadi dan sudah kita perbuat, karena seperti itulah ilusi bekerja. Yang salah adalah jika kita tidak juga mau memberi ruang untuk berpikir, hingga saat tersadar semua sudah terlambat.
Siapakah itu? Mereka adalah para orang tua yang sudah tidak memiliki daya dan upaya lagi. Ego yang dahulu dipelihara kini sudah hilang, bersamaan dengan hilangnya waktu dan kesempatan yang sudah disia-siakan. Yeng tersisa hanyalah penyesalan dengan kebijakan usang.
Ketika kelas menengah jatuh, seluruh komponen keluarga akan mengalami penurunan kualitas hidup, dampaknya akan merambat ke seluruh sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Konsumsi nasional melambat, produktivitas menurun, industri mati, lapangan kerja hilang, hingga negara mengalami deindrustilisasi dini yang akan membuat struktur sosial menjadi tidak stabil sebelum akhirnya ambruk.
Menyelamatkan kelas menengah bukan hanya tentang menyelamatkan dapur kita masing-masing—ini adalah tentang menyelamatkan masa depan bangsa. Dari merekalah lahir inovasi, kewirausahaan, pendidikan, pajak, konsumsi, dan kepedulian sosial yang menopang kehidupan bersama.
Kami menolak untuk diam ketika melihat generasi kerah putih terjebak dalam ketidakpastian. Kami menolak membiarkan aset-aset produktif milik masyarakat hangus tergilas krisis. Dan kami menolak menyandarkan masa depan ekonomi kita pada sistem keuangan yang tidak adil dan menjebak.
Ini bukan kewajiban, melainkan bentuk tanggung jawab moral untuk menjaga keberlanjutan fondasi ekonomi dari bawah ke atas, dengan membangun ruang-ruang inklusif bagi setiap individu untuk mendapatkan kesempatan yang sama.
Manifesto ini adalah ruang teduh bagi siapa saja yang ingin melangkah melampaui klaim kebaikan dan kesalehan personal. Ini adalah undangan bagi para profesional, pemilik bisnis lokal, akademisi, praktisi hukum, hingga jajaran korporasi untuk mulai peduli sosial yang berdampak nyata pada resiliensi manusia secara sistematis.
You can reach us through our contact page on the website where you’ll find our phone on number email address and a convenient contact form we are also available on social media platforms such as list relevant platform.
You can reach us through our contact page on the website where you’ll find our phone on number email address and a convenient contact form we are also available on social media platforms such as list relevant platform.
You can reach us through our contact page on the website where you’ll find our phone on number email address and a convenient contact form we are also available on social media platforms such as list relevant platform.
You can reach us through our contact page on the website where you’ll find our phone on number email address and a convenient contact form we are also available on social media platforms such as list relevant platform.
You can reach us through our contact page on the website where you’ll find our phone on number email address and a convenient contact form we are also available on social media platforms such as list relevant platform.
You can reach us through our contact page on the website where you’ll find our phone on number email address and a convenient contact form we are also available on social media platforms such as list relevant platform.
You can reach us through our contact page on the website where you’ll find our phone on number email address and a convenient contact form we are also available on social media platforms such as list relevant platform.
You can reach us through our contact page on the website where you’ll find our phone on number email address and a convenient contact form we are also available on social media platforms such as list relevant platform.
Subscribe for newsletter & get day news, service updates