#MenolakHilang — Insight 03
Ada satu nasihat yang diwariskan hampir kepada semua generasi:
Kalau ingin hidup lebih baik, bekerja lebih keras.
Nasihat itu terdengar masuk akal.
Dan selama bertahun-tahun,
banyak orang mempercayainya.
Belajar lebih baik.
Bekerja lebih rajin.
Mendapat pekerjaan yang lebih baik.
Menaikkan penghasilan.
Menabung.
Membeli rumah.
Menyekolahkan anak.
Mempersiapkan hari tua.
Pelan-pelan.
Sedikit demi sedikit.
Hidup akan menjadi lebih baik.
Itulah janji yang kita kenal.
Tetapi kemudian sesuatu berubah.
Kita tetap bekerja.
Bahkan mungkin lebih keras.
Jam kerja bertambah.
Target bertambah.
Kompetisi bertambah.
Kebutuhan bertambah.
Informasi bertambah.
Teknologi bertambah.
Tetapi ada perasaan yang semakin sering muncul:
Mengapa saya sudah bekerja sekeras ini, tetapi masa depan masih terasa begitu jauh?
Bukan berarti hidup selalu buruk.
Bukan berarti kita tidak memiliki apa-apa.
Justru mungkin masalahnya adalah:
kita terlihat baik-baik saja.
Masih bekerja.
Masih makan.
Masih membayar tagihan.
Masih menyekolahkan anak.
Masih bisa sesekali berlibur.
Masih bisa membeli sesuatu yang kita inginkan.
Dari luar,
semuanya terlihat normal.
Tetapi di dalam kepala,
ada kalkulator yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Berapa biaya sekolah tahun depan?
Berapa harga rumah sekarang?
Berapa biaya kesehatan?
Bagaimana kalau kehilangan pekerjaan?
Bagaimana kalau bisnis turun?
Bagaimana kalau orang tua membutuhkan biaya?
Bagaimana kalau anak ingin kuliah di tempat yang lebih baik?
Berapa yang harus ditabung?
Berapa yang harus disiapkan?
Berapa lama kita bisa bertahan?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu membuat seseorang miskin.
Tetapi bisa membuat seseorang kehilangan rasa aman.
Dan mungkin,
rasa aman adalah salah satu hal pertama yang hilang ketika daya mulai tertekan.
Kita sering mengukur kemajuan dengan angka.
Pendapatan naik.
Karier naik.
Omzet naik.
Produktivitas naik.
Aset bertambah.
Tetapi ada angka lain yang jarang kita hitung:
berapa banyak ruang yang tersisa untuk hidup?
Berapa banyak waktu untuk keluarga?
Berapa banyak energi untuk belajar?
Berapa banyak kapasitas untuk berpikir?
Berapa banyak kesempatan untuk mencoba sesuatu yang baru?
Berapa banyak keberanian untuk mengatakan:
“Saya ingin mengubah arah hidup saya.”
Karena perubahan membutuhkan energi.
Dan ketika seluruh energi kita habis hanya untuk mempertahankan keadaan,
kita tidak lagi punya banyak daya untuk membangun masa depan.
Mungkin inilah paradoks yang sedang dialami banyak orang.
Kita menjadi semakin produktif,
tetapi belum tentu semakin berdaya.
Kita menghasilkan lebih banyak,
tetapi belum tentu memiliki lebih banyak pilihan.
Kita bekerja lebih lama,
tetapi belum tentu semakin dekat dengan kehidupan yang kita inginkan.
Kita memiliki lebih banyak teknologi,
tetapi belum tentu memiliki lebih banyak waktu.
Kita memiliki lebih banyak informasi,
tetapi belum tentu lebih yakin tentang masa depan.
Produktivitas dan kemajuan ternyata bukan hal yang sama.
Ada sesuatu yang perlu kita bedakan.
Bertahan hidup dan membangun kehidupan.
Ketika sebagian besar energi digunakan untuk bertahan,
kita mungkin masih terlihat produktif.
Tetapi sebenarnya sedang kehilangan ruang untuk tumbuh.
Bangun.
Bekerja.
Pulang.
Bayar.
Ulangi.
Dan besok,
mulai lagi.
Siklus itu bisa berlangsung bertahun-tahun.
Bahkan puluhan tahun.
Sampai suatu hari seseorang melihat ke belakang dan bertanya:
“Kapan sebenarnya saya mulai berhenti membangun hidup saya sendiri?”
Mungkin kita terlalu sering menyalahkan diri sendiri.
Kalau penghasilan kurang,
kita mengatakan harus bekerja lebih keras.
Kalau karier berhenti,
kita mengatakan harus meningkatkan skill.
Kalau bisnis sulit,
kita mengatakan harus lebih inovatif.
Kalau tidak punya waktu,
kita mengatakan harus lebih produktif.
Semua itu mungkin benar.
Tetapi tidak selalu cukup.
Karena ada keadaan ketika persoalannya bukan lagi:
“Apakah saya sudah cukup berusaha?”
Melainkan:
“Apakah cara saya berusaha masih sesuai dengan dunia tempat saya hidup?”
Bayangkan seseorang yang selama bertahun-tahun membangun keahlian tertentu.
Ia bekerja dengan baik.
Ia loyal.
Ia berpengalaman.
Ia merasa telah melakukan semua yang seharusnya dilakukan.
Kemudian teknologi berubah.
Model bisnis berubah.
Industri berubah.
Kebutuhan pasar berubah.
Dan tiba-tiba,
pengalaman yang dulu menjadi kekuatan
tidak lagi memiliki nilai yang sama.
Apakah orang itu menjadi malas?
Tidak.
Apakah ia berhenti berusaha?
Belum tentu.
Tetapi dunia di sekelilingnya
telah mengubah cara nilai diciptakan.
Dan mungkin,
itulah salah satu bentuk kehilangan daya yang paling sunyi.
Kita sering berbicara tentang kehilangan pekerjaan.
Tetapi ada kehilangan yang lebih halus:
kehilangan daya tawar.
Kehilangan kemampuan untuk memilih.
Kehilangan kemampuan untuk berkata tidak.
Kehilangan kemampuan untuk mengambil risiko.
Kehilangan kemampuan untuk belajar karena terlalu lelah.
Kehilangan kemampuan untuk memulai kembali karena terlalu banyak yang harus dipertahankan.
Dan ketika pilihan semakin sedikit,
seseorang mungkin masih memiliki penghasilan,
tetapi mulai kehilangan kebebasan.
Di sinilah kita perlu melihat produktivitas dengan cara yang berbeda.
Produktivitas seharusnya bukan hanya:
berapa banyak yang bisa kita hasilkan.
Tetapi juga:
berapa banyak kapasitas yang kita bangun untuk masa depan.
Kalau hari ini kita bekerja keras tetapi setiap hari menjadi semakin lelah,
apakah itu produktif?
Kalau pendapatan meningkat tetapi ketergantungan terhadap satu sumber penghasilan semakin besar,
apakah itu benar-benar lebih aman?
Kalau bisnis tumbuh tetapi seluruh sistem bergantung pada satu atau dua orang,
apakah bisnis itu semakin kuat?
Kalau seorang anak mendapat nilai bagus tetapi tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi dunia yang berubah,
apakah pendidikan itu sudah cukup?
Pertanyaannya menjadi lebih besar.
Mungkin kita membutuhkan definisi baru tentang kemajuan.
Bukan hanya:
lebih banyak.
Tetapi:
lebih mampu.
Lebih mampu belajar.
Lebih mampu memilih.
Lebih mampu beradaptasi.
Lebih mampu menciptakan nilai.
Lebih mampu menghadapi ketidakpastian.
Lebih mampu membantu orang lain.
Lebih mampu membangun kembali ketika sesuatu runtuh.
Karena pada dunia yang berubah cepat,
daya mungkin lebih penting daripada sekadar hasil.
Dan mungkin itu pula sebabnya kelas menengah menjadi begitu menarik untuk diperhatikan.
Mereka sering tidak terlihat sebagai kelompok yang sedang berada dalam masalah.
Karena mereka masih bekerja.
Masih memiliki penghasilan.
Masih memiliki pendidikan.
Masih memiliki akses.
Tetapi sebagian mulai merasakan sesuatu yang berbeda.
Jarak antara kehidupan hari ini dan kehidupan yang mereka harapkan semakin sulit dijembatani.
Bukan karena mereka berhenti bergerak.
Tetapi karena biaya untuk bergerak semakin besar.
Dan margin untuk melakukan kesalahan semakin kecil.
Satu kehilangan pekerjaan.
Satu penyakit.
Satu kegagalan bisnis.
Satu anak yang harus berhenti sekolah.
Satu keputusan finansial yang salah.
Satu krisis keluarga.
Kadang cukup untuk mengubah seluruh keseimbangan.
Maka mungkin persoalan kelas menengah bukan hanya:
“Apakah mereka masih mampu membeli?”
Tetapi:
“Apakah mereka masih memiliki kemampuan untuk menentukan masa depan?”
Pertanyaan itu berbeda.
Karena seseorang bisa saja masih mampu membeli hari ini,
tetapi tidak mampu membangun hari esok.
Masih mampu membayar,
tetapi tidak mampu menabung.
Masih mampu bertahan,
tetapi tidak mampu mengambil kesempatan.
Masih terlihat baik-baik saja,
tetapi semakin rapuh ketika sesuatu berubah.
Dan di sinilah kita kembali kepada manusia.
Kita tidak bisa terus mengatakan:
“Bekerjalah lebih keras.”
Tanpa bertanya:
“Untuk apa?”
Kita tidak bisa terus mengatakan:
“Tingkatkan produktivitas.”
Tanpa bertanya:
“Kapasitas untuk apa?”
Kita tidak bisa terus mengatakan:
“Belajarlah skill baru.”
Tanpa bertanya:
“Skill apa yang benar-benar membuat manusia lebih berdaya?”
Dan kita tidak bisa terus berbicara tentang pertumbuhan,
tanpa bertanya:
“Pertumbuhan seperti apa yang membuat kehidupan menjadi lebih kuat?”
Mungkin sudah waktunya kita berhenti mengukur kehidupan hanya dari seberapa cepat kita bergerak.
Mungkin kita perlu melihat:
Apakah kita semakin memiliki pilihan?
Apakah kita semakin mampu menentukan arah?
Apakah kita semakin siap ketika sesuatu berubah?
Apakah kita memiliki ruang untuk membantu orang lain?
Apakah keluarga kita menjadi lebih kuat?
Apakah lingkungan tempat kita hidup menjadi lebih sehat?
Apakah apa yang kita bangun hari ini masih memiliki nilai bagi masa depan?
Karena mungkin,
tujuan bekerja bukan hanya untuk mendapatkan penghasilan.
Tujuan bisnis bukan hanya menghasilkan keuntungan.
Tujuan pendidikan bukan hanya mendapatkan pekerjaan.
Dan tujuan teknologi bukan hanya membuat semuanya lebih cepat.
Semuanya seharusnya membantu manusia
memiliki lebih banyak kemampuan untuk menentukan kehidupannya.
Jadi mungkin pertanyaan yang sebenarnya bukan:
“Mengapa kita belum bekerja cukup keras?”
Mungkin pertanyaannya:
“Mengapa kerja keras kita tidak lagi terasa menghasilkan pijakan yang cukup kuat untuk masa depan?”
Dan kalau jawabannya ternyata tidak sesederhana kurangnya usaha,
maka mungkin kita perlu melihat sesuatu yang lebih besar.
Cara kita bekerja.
Cara bisnis menciptakan nilai.
Cara pendidikan mempersiapkan manusia.
Cara teknologi mengubah pekerjaan.
Cara masyarakat membangun solidaritas.
Dan cara kita mendefinisikan keberhasilan.
Karena bisa jadi,
yang perlu diubah bukan hanya seberapa keras kita bekerja.
Tetapi cara kita membangun daya.
Mungkin kita tidak sedang malas.
Mungkin kita sedang lelah.
Mungkin kita tidak kehilangan ambisi.
Mungkin kita sedang kehilangan ruang.
Mungkin kita tidak kekurangan keinginan untuk maju.
Mungkin kita hanya semakin sulit melihat
jalan untuk sampai ke sana.
Dan mungkin,
itulah yang perlu kita bicarakan.
Bukan untuk mencari siapa yang salah.
Bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan.
Tetapi untuk memahami:
Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada cara kita bekerja, hidup, dan membangun masa depan?
PUBLICPRENEUR NOTE
Mungkin bekerja lebih keras tetap penting.
Tetapi di dunia yang terus berubah,
kerja keras tanpa arah dapat menjadi kelelahan.
Dan produktivitas tanpa daya
hanya membuat kita semakin cepat
mengejar sesuatu
yang belum tentu membawa kita ke tempat yang kita inginkan.
Maka mungkin,
sebelum bertanya bagaimana kita bisa bekerja lebih keras,
kita perlu bertanya:
“Apakah cara kita bekerja hari ini masih membantu kita membangun kehidupan yang kita inginkan?”
Karena pada akhirnya,
yang kita cari bukan sekadar kehidupan yang lebih sibuk.
Kita mencarikehidupan yang lebih berdaya.