Kita masih bekerja.
Kita masih menghasilkan.
Kita masih menjalani hidup seperti biasa.
Tetapi entah sejak kapan, ada sesuatu yang terasa berbeda.
Harga-harga naik.
Kebutuhan bertambah.
Pekerjaan berubah.
Teknologi datang semakin cepat.
Pendidikan anak semakin mahal.
Rencana membeli rumah terasa semakin jauh.
Menabung terasa semakin sulit.
Dan masa depan—yang dulu terasa seperti sesuatu yang bisa kita rencanakan—perlahan berubah menjadi sesuatu yang harus kita pertahankan.
Mungkin kita masih baik-baik saja.
Setidaknya dari luar.
Tetapi apakah “masih baik-baik saja” berarti kita masih memiliki pijakan?
Kita sering mengira masalahnya adalah uang
Ketika kehidupan ekonomi terasa semakin berat, respons pertama kita biasanya sama:
Cari penghasilan lebih besar.
Naikkan omzet.
Cari pekerjaan tambahan.
Tambah jam kerja.
Belajar skill baru.
Berhemat.
Investasi.
Semua itu masuk akal.
Tetapi ada satu pertanyaan yang mungkin jarang kita ajukan:
Bagaimana jika persoalannya bukan hanya berapa banyak yang kita hasilkan, tetapi seberapa besar kemampuan kita untuk menentukan apa yang terjadi pada hidup kita berikutnya?
Karena dua orang dengan penghasilan yang sama belum tentu memiliki daya tahan yang sama.
Seseorang mungkin masih memiliki ruang untuk menabung, belajar, mengambil risiko, atau mempersiapkan perubahan.
Sementara orang lain dengan penghasilan yang relatif sama mungkin seluruh penghasilannya sudah terserap untuk mempertahankan kehidupan hari ini.
Keduanya bekerja.
Keduanya berpenghasilan.
Keduanya mungkin terlihat berada di kelas ekonomi yang sama.
Tetapi daya mereka untuk menghadapi masa depan berbeda.
Di situlah persoalannya mulai menjadi lebih menarik.