Search
Close this search box

KETIKA PEKERJAAN TIDAK LAGI MENJAMIN MOBILITAS

shares

#MenolakHilang — Insight 04

Ada sebuah cerita yang mungkin pernah kita dengar sejak kecil.

Belajarlah dengan baik.

Dapatkan pendidikan.

Cari pekerjaan yang baik.

Bekerjalah dengan sungguh-sungguh.

Naikkan karier.

Maka hidupmu akan menjadi lebih baik.

Sederhana.

Masuk akal.

Dan selama bertahun-tahun,

cerita itu bekerja.


Sekolah menjadi tangga.

Pekerjaan menjadi pijakan.

Karier menjadi jalan naik.

Penghasilan menjadi hasil.

Dan kehidupan yang lebih baik menjadi tujuan.

Kita tidak selalu mempertanyakannya.

Karena banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa:

kalau kita bergerak cukup jauh, kita akan naik.

Tetapi dunia berubah.

Dan mungkin yang berubah bukan hanya pekerjaannya.

Tangga sosialnya juga.


Dulu,

seseorang mungkin memulai dari bawah.

Belajar.

Bekerja.

Mengumpulkan pengalaman.

Mendapat tanggung jawab lebih besar.

Penghasilan meningkat.

Kemudian membeli rumah.

Menyekolahkan anak.

Membangun tabungan.

Dan perlahan,

keluarganya memiliki kehidupan yang lebih baik daripada generasi sebelumnya.

Itulah yang kita sebut mobilitas.

Bukan sekadar mendapatkan pekerjaan.

Tetapi kemampuan untuk bergerak menuju kehidupan yang lebih baik.


Sekarang,

memiliki pekerjaan belum tentu berarti memiliki mobilitas.

Memiliki penghasilan belum tentu berarti memiliki kemajuan.

Memiliki gelar belum tentu berarti memiliki daya tawar.

Memiliki pengalaman belum tentu berarti semakin aman.

Dan bekerja bertahun-tahun belum tentu berarti semakin dekat dengan kehidupan yang kita bayangkan.

Ini bukan berarti pekerjaan kehilangan nilai.

Justru sebaliknya.

Pekerjaan tetap sangat penting.

Tetapi hubungan antara pekerjaan dan masa depan

mungkin tidak lagi sesederhana dulu.


Ada seseorang yang bekerja selama sepuluh tahun.

Ia tidak malas.

Ia datang tepat waktu.

Ia belajar.

Ia menyelesaikan tanggung jawabnya.

Ia dipercaya.

Kariernya berjalan.

Tetapi kemudian ia menyadari:

penghasilannya naik,

sementara biaya hidup naik lebih cepat.

Jabatannya naik,

tetapi waktu yang dimilikinya semakin sedikit.

Pengalamannya bertambah,

tetapi kesempatan untuk berpindah semakin sempit.

Ia bekerja lebih lama,

tetapi ruang untuk membangun sesuatu di luar pekerjaan justru semakin kecil.

Secara karier,

ia mungkin sedang naik.

Tetapi dalam kehidupannya,

apakah ia benar-benar sedang bergerak maju?


Pertanyaan itu penting.

Karena selama ini kita sering menggunakan jabatan sebagai ukuran mobilitas.

Junior menjadi senior.

Staff menjadi manager.

Manager menjadi director.

Pendapatan meningkat.

Status meningkat.

Tetapi mobilitas manusia bukan hanya soal posisi.

Ia juga tentang:

pilihan.

Apakah kita memiliki lebih banyak pilihan dibanding lima tahun lalu?

Apakah kita memiliki kemampuan untuk berpindah?

Apakah kita memiliki waktu untuk belajar?

Apakah kita memiliki ruang untuk mengambil risiko?

Apakah kita memiliki tabungan untuk menghadapi perubahan?

Apakah kita memiliki jaringan ketika sesuatu terjadi?

Apakah kita memiliki kemampuan untuk membangun sumber nilai lain?

Apakah kita masih bisa mengatakan:

“Saya memilih ini.”

bukan:

“Saya tidak punya pilihan lain.”


Mungkin inilah perbedaan antara career growth dan life mobility.

Career growth bertanya:

“Apakah posisi saya meningkat?”

Life mobility bertanya:

“Apakah kemampuan saya menentukan kehidupan semakin besar?”

Keduanya tidak selalu berjalan bersama.

Seseorang bisa memiliki karier yang sangat baik,

tetapi semakin terikat pada satu sistem.

Seseorang bisa memiliki penghasilan tinggi,

tetapi tidak memiliki ruang untuk gagal.

Seseorang bisa memiliki jabatan tinggi,

tetapi tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri.

Seseorang bisa terlihat sukses,

tetapi diam-diam takut kehilangan semua yang telah dibangun.


Dan kemudian datang generasi berikutnya.

Anak-anak kita.

Kita mengatakan kepada mereka:

Belajarlah.

Dapatkan gelar.

Bangun karier.

Tetapi dunia yang akan mereka masuki

mungkin bukan dunia yang sama dengan dunia tempat kita membuat nasihat itu.

Pekerjaan berubah.

Skill berubah.

Industri berubah.

AI berkembang.

Model bisnis berubah.

Cara perusahaan merekrut berubah.

Cara orang menghasilkan uang berubah.

Bahkan definisi tentang “pekerjaan yang baik”

mulai berubah.


Lalu kita menghadapi sebuah paradoks.

Kita meminta anak-anak untuk mempersiapkan masa depan

yang bahkan belum kita pahami.

Kita mengajarkan mereka untuk menjawab pertanyaan.

Sementara dunia mereka mungkin membutuhkan kemampuan untuk

mengajukan pertanyaan yang tepat.

Kita mengajarkan mereka mencari pekerjaan.

Sementara dunia mungkin semakin membutuhkan kemampuan

menciptakan nilai di berbagai tempat.

Kita mengajarkan mereka menjadi ahli dalam satu hal.

Sementara masa depan mungkin meminta mereka

terus belajar menjadi sesuatu yang baru.

Bukan berarti semua yang lama salah.

Tetapi mungkin,

cara kita mendefinisikan kesiapan perlu berubah.


Sebab pekerjaan sedang mengalami sesuatu yang lebih besar daripada sekadar digitalisasi.

Nilai manusia sedang bergeser.

Apa yang dulu mahal karena sulit dilakukan manusia,

sekarang mungkin dapat dilakukan mesin.

Apa yang dulu membutuhkan banyak waktu,

sekarang dapat dilakukan jauh lebih cepat.

Apa yang dulu menjadi keunggulan,

sekarang menjadi standar.

Dan ketika standar berubah,

manusia dipaksa bertanya:

“Kalau begitu, apa yang membuat saya tetap bernilai?”


Pertanyaan itu terdengar seperti pertanyaan karier.

Tetapi sebenarnya jauh lebih dalam.

Karena jika nilai diri terlalu erat dikaitkan dengan pekerjaan,

kehilangan pekerjaan bisa terasa seperti kehilangan identitas.

Ketika jabatan hilang,

diri ikut goyah.

Ketika penghasilan turun,

harga diri ikut turun.

Ketika karier berhenti,

seseorang merasa hidupnya juga berhenti.

Padahal manusia jauh lebih besar daripada pekerjaannya.


Mungkin kita perlu membangun kembali hubungan antara manusia dan pekerjaan.

Pekerjaan seharusnya menjadi salah satu cara manusia menciptakan nilai.

Bukan satu-satunya sumber nilai.

Karier seharusnya menjadi salah satu perjalanan.

Bukan seluruh identitas.

Penghasilan seharusnya memberi manusia kemampuan untuk hidup.

Bukan membuat manusia kehilangan kemampuan untuk hidup.

Dan pendidikan seharusnya tidak hanya mempersiapkan seseorang mendapatkan pekerjaan.

Tetapi mempersiapkan seseorang

tetap berdaya ketika pekerjaan berubah.


Maka mungkin kita perlu berhenti bertanya:

“Pekerjaan apa yang paling aman?”

Karena di dunia yang berubah,

keamanan absolut mungkin semakin sulit ditemukan.

Pertanyaan yang lebih penting mungkin:

“Seberapa mampu saya beradaptasi ketika pekerjaan saya berubah?”

Bukan:

“Berapa besar gaji saya?”

Tetapi:

“Berapa besar daya tawar yang saya miliki?”

Bukan:

“Seberapa tinggi jabatan saya?”

Tetapi:

“Seberapa banyak pilihan yang saya miliki?”

Bukan:

“Apakah perusahaan saya akan mempertahankan saya?”

Tetapi:

“Apakah saya memiliki kapasitas untuk menciptakan nilai di luar satu perusahaan?”


Ini bukan ajakan untuk meninggalkan pekerjaan.

Bukan pula ajakan untuk menjadi entrepreneur.

Tidak semua orang harus membangun bisnis.

Tidak semua orang harus menjadi freelancer.

Tidak semua orang harus bekerja sendiri.

Dan tidak semua orang ingin hidup seperti itu.

Yang kita butuhkan mungkin bukan satu bentuk pekerjaan yang baru.

Tetapi manusia yang lebih berdaya di dalam berbagai bentuk pekerjaan.

Karyawan.

Profesional.

Entrepreneur.

Guru.

Peneliti.

Pekerja kreatif.

Pengrajin.

Petani.

Teknisi.

Caregiver.

Dan begitu banyak bentuk pekerjaan yang mungkin belum kita kenal hari ini.


Karena masa depan pekerjaan mungkin bukan tentang:

siapa yang memiliki pekerjaan,

tetapi:

siapa yang masih memiliki kemampuan untuk menciptakan nilai ketika bentuk pekerjaan berubah.

Dan kemampuan itu tidak hanya berasal dari skill teknis.

Ia juga berasal dari:

rasa ingin tahu.

kemampuan belajar.

kemampuan berpikir.

kemampuan bekerja dengan orang lain.

kemampuan memahami perubahan.

kemampuan membangun kepercayaan.

kemampuan menggunakan teknologi.

kemampuan menciptakan sesuatu.

kemampuan memulai kembali.

Dan mungkin yang paling penting:

kemampuan untuk mengetahui siapa diri kita ketika dunia meminta kita menjadi orang yang berbeda.


Mungkin kita selama ini terlalu sibuk menaiki tangga.

Sampai lupa bertanya:

Apakah tangga ini masih menuju tempat yang kita inginkan?

Mungkin kita terlalu sibuk mengejar promosi.

Sampai lupa bertanya:

Apakah kehidupan kita ikut naik bersama jabatan itu?

Mungkin kita terlalu sibuk mengamankan pekerjaan.

Sampai lupa membangun kemampuan

yang membuat kita tetap aman

ketika pekerjaan itu berubah.


Dan mungkin,

itulah salah satu bentuk kehilangan yang paling sulit dilihat.

Bukan kehilangan pekerjaan.

Tetapi kehilangan mobilitas.

Kita masih bergerak.

Tetapi tidak benar-benar maju.

Kita masih bekerja.

Tetapi pilihan semakin sedikit.

Kita masih menghasilkan.

Tetapi kemampuan untuk membangun masa depan semakin terbatas.

Kita masih terlihat baik-baik saja.

Tetapi ruang untuk berubah semakin sempit.


Kalau begitu,

mungkin pertanyaan kita tentang pekerjaan harus berubah.

Bukan hanya:

“Apa pekerjaan yang akan saya dapatkan?”

Tetapi:

“Manusia seperti apa yang ingin saya menjadi ketika dunia pekerjaan berubah?”

Bukan hanya:

“Bagaimana saya mendapatkan penghasilan?”

Tetapi:

“Bagaimana saya membangun daya yang memungkinkan saya tetap memiliki pilihan?”

Dan bukan hanya untuk diri kita.

Tetapi untuk anak-anak kita.

Untuk pekerja lain.

Untuk perusahaan.

Untuk masyarakat.

Karena ketika mobilitas semakin sulit,

persoalannya tidak lagi menjadi persoalan individu.

Ia menjadi persoalan sistem.


Mungkin kita tidak membutuhkan lebih banyak orang yang sekadar siap bekerja.

Mungkin kita membutuhkan lebih banyak manusia

yang siap menciptakan nilai, belajar kembali, berpindah, berkolaborasi, dan membangun kembali.

Dan mungkin perusahaan juga harus mulai bertanya:

Apakah kita hanya menciptakan pekerjaan?

atau

Apakah kita juga menciptakan kemampuan manusia untuk tumbuh?

Karena bisnis yang kuat tidak hanya memiliki workforce.

Ia memiliki manusia

yang semakin berdaya karena berada di dalamnya.


Mungkin masa depan tidak menjanjikan tangga yang lebih tinggi.

Mungkin masa depan menawarkan sesuatu yang berbeda:

lebih banyak jalan.

Tetapi untuk melihat jalan-jalan itu,

kita membutuhkan mata yang lebih terbuka.

Pikiran yang mau belajar.

Dan keberanian untuk tidak selalu berjalan

di jalur yang sudah disiapkan orang lain.


Jadi mungkin pertanyaan terbesar tentang pekerjaan bukan lagi:

“Apakah saya akan tetap memiliki pekerjaan?”

Tetapi:

“Apakah saya masih memiliki daya untuk menentukan apa yang saya lakukan ketika pekerjaan berubah?”

Karena pada akhirnya,

yang kita perjuangkan bukan sekadar pekerjaan.

Bukan sekadar karier.

Bukan sekadar penghasilan.

Kita sedang memperjuangkan sesuatu yang lebih dalam:

kemampuan manusia untuk tetap memiliki masa depan.

Dan mungkin,

itulah arti sebenarnya dari mobilitas.

Bukan sekadar bergerak naik.

Tetapi tetap memiliki

kemampuan untuk bergerak.


PUBLICPRENEUR NOTE

Mungkin tangga yang kita gunakan untuk naik

tidak lagi sama.

Tidak apa-apa.

Yang perlu kita pastikan bukan bahwa tangga itu selalu ada.

Tetapi bahwa manusia

tetap memiliki kemampuan untuk menemukan jalan.

Karena masa depan mungkin tidak bisa kita jamin.

Tetapi daya untuk menghadapinya masih bisa kita bangun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *