Search
Close this search box

KITA TIDAK SEDANG KEHILANGAN UANG. KITA KEHILANGAN PIJAKAN.

shares

#MenolakHilang — Insight 01


Kita masih bekerja.

Kita masih menghasilkan.

Kita masih menjalani hidup seperti biasa.

Tetapi entah sejak kapan, ada sesuatu yang terasa berbeda.

Harga-harga naik.

Kebutuhan bertambah.

Pekerjaan berubah.

Teknologi datang semakin cepat.

Pendidikan anak semakin mahal.

Rencana membeli rumah terasa semakin jauh.

Menabung terasa semakin sulit.

Dan masa depan—yang dulu terasa seperti sesuatu yang bisa kita rencanakan—perlahan berubah menjadi sesuatu yang harus kita pertahankan.

Mungkin kita masih baik-baik saja.

Setidaknya dari luar. Tetapi apakah “masih baik-baik saja” berarti kita masih memiliki pijakan?


Kita sering mengira masalahnya adalah uang

Ketika kehidupan ekonomi terasa semakin berat, respons pertama kita biasanya sama:

Cari penghasilan lebih besar.

Naikkan omzet.

Cari pekerjaan tambahan.

Tambah jam kerja.

Belajar skill baru.

Berhemat.

Investasi.

Semua itu masuk akal.

Tetapi ada satu pertanyaan yang mungkin jarang kita ajukan:

Bagaimana jika persoalannya bukan hanya berapa banyak yang kita hasilkan, tetapi seberapa besar kemampuan kita untuk menentukan apa yang terjadi pada hidup kita berikutnya?

Karena dua orang dengan penghasilan yang sama belum tentu memiliki daya tahan yang sama.

Seseorang mungkin masih memiliki ruang untuk menabung, belajar, mengambil risiko, atau mempersiapkan perubahan.

Sementara orang lain dengan penghasilan yang relatif sama mungkin seluruh penghasilannya sudah terserap untuk mempertahankan kehidupan hari ini.

Keduanya bekerja.

Keduanya berpenghasilan.

Keduanya mungkin terlihat berada di kelas ekonomi yang sama.

Tetapi daya mereka untuk menghadapi masa depan berbeda.

Di situlah persoalannya mulai menjadi lebih menarik.


Bukan hanya income. Tetapi capacity.

Kita sering mengukur kesejahteraan melalui angka:

berapa penghasilan kita?

Tetapi mungkin ada ukuran lain yang tidak kalah penting:

berapa banyak pilihan yang masih kita miliki?

Apakah kita masih bisa mengatakan:

“Saya bisa mengambil keputusan ini.”

atau kehidupan sudah mulai mengatakan:

“Saya tidak punya pilihan lain.”

Ketika seluruh pendapatan habis untuk kebutuhan dasar, ketika tabungan tidak lagi bertambah, ketika utang mulai menentukan keputusan, ketika kehilangan pekerjaan berarti langsung kehilangan kemampuan mempertahankan kehidupan, maka yang menyusut bukan hanya saldo rekening.

Ruang gerak kita ikut menyempit.

Dan ketika ruang gerak menyempit, kemampuan menentukan masa depan ikut melemah.

Inilah yang kami sebut sebagai:

Kehilangan Daya.


Daya bukan sekadar kekuatan ekonomi

Daya adalah kemampuan untuk:

memilih.

beradaptasi.

belajar.

mengambil keputusan.

menghadapi perubahan.

membangun kembali ketika sesuatu hilang.

Karena itu seseorang dapat memiliki penghasilan cukup tetapi tetap rapuh.

Sebaliknya, seseorang dengan sumber daya terbatas dapat memiliki daya yang kuat karena mempunyai keterampilan, jaringan, pengetahuan, kesehatan sosial, kemampuan belajar, dan lingkungan yang mendukung.

Maka mungkin pertanyaan tentang kesejahteraan perlu diperluas.

Bukan hanya:

“Berapa yang Anda punya?”

Tetapi:

“Seberapa besar kemampuan Anda untuk menghadapi apa yang akan terjadi?”


Dan dunia sedang bergerak

Persoalannya, kita tidak sedang menghadapi satu perubahan.

Kita menghadapi banyak perubahan sekaligus.

Ekonomi berubah.

Cara bekerja berubah.

Teknologi berubah.

AI mengubah cara pengetahuan dan pekerjaan diciptakan.

Kebutuhan konsumen berubah.

Struktur keluarga berubah.

Pendidikan berubah.

Cara manusia berinteraksi berubah.

Dan perubahan itu tidak datang satu per satu.

Ia datang bersamaan.

Yang membuatnya sulit bukan semata-mata karena kita tidak mampu mengikuti perubahan.

Tetapi karena kecepatan perubahan dapat melampaui kemampuan manusia untuk beradaptasi.

Akibatnya, seseorang bisa bekerja semakin keras hanya untuk mempertahankan posisi yang sama.

Bukan untuk naik.

Hanya untuk tidak turun.

Dan di sinilah kita perlu berhenti sebentar.


Bagaimana jika “turun” bukan satu-satunya persoalan?

Selama ini kita sering berbicara tentang:

naik kelas atau turun kelas.

Tetapi mungkin ada sesuatu yang lebih mendasar.

Seseorang bisa kehilangan lebih dari sekadar posisi ekonomi.

Ia bisa kehilangan kepercayaan diri.

Kehilangan waktu.

Kehilangan kesempatan.

Kehilangan jaringan.

Kehilangan kemampuan untuk belajar.

Kehilangan hubungan dengan orang lain.

Bahkan kehilangan pemahaman tentang untuk apa semua yang sedang ia perjuangkan.

Karena itu Publicpreneur memilih istilah:

#MenolakHilang

Bukan sekadar #MenolakTurun.

Karena yang ingin kita pertahankan bukan hanya posisi ekonomi.

Tetapi manusia secara utuh.


Ada setidaknya empat hal yang mungkin sedang kita kehilangan

Kehilangan Diri

Ketika hidup menjadi terlalu penuh oleh tuntutan, target, notifikasi, pekerjaan, dan ekspektasi, kita mungkin semakin sulit mendengar diri sendiri.

Apa sebenarnya yang saya inginkan?


Kehilangan Daya

Ketika kemampuan ekonomi, keterampilan, waktu, atau kesempatan semakin menyempit, kita kehilangan ruang untuk menentukan masa depan.

Apakah saya masih punya pilihan?


Kehilangan Solidaritas

Ketika semua orang sibuk mempertahankan dirinya sendiri, kompetisi dapat menggantikan solidaritas.

Apakah kita masih bisa tumbuh bersama?


Kehilangan Makna

Dan bahkan ketika semuanya tampak berhasil, masih ada pertanyaan yang lebih dalam.

Untuk apa saya melakukan semua ini?

Empat kehilangan ini mungkin terlihat berbeda.

Tetapi semuanya mempunyai satu kesamaan:

manusia kehilangan kemampuan untuk menentukan arah hidupnya sendiri.


Mungkin kita selama ini mengajukan pertanyaan yang terlalu kecil

Kita bertanya:

Bagaimana menghasilkan lebih banyak uang?

Mungkin kita juga perlu bertanya:

Bagaimana membangun kembali daya?

Kita bertanya:

Bagaimana mendapatkan pekerjaan?

Mungkin kita perlu bertanya:

Bagaimana membangun kemampuan agar tetap relevan ketika pekerjaan berubah?

Kita bertanya:

Bagaimana membuat bisnis tumbuh?

Mungkin kita perlu bertanya:

Apakah ekosistem tempat bisnis kita tumbuh juga ikut menguat?

Kita bertanya:

Bagaimana menjadi sukses?

Mungkin kita perlu bertanya:

Sukses untuk apa?


Publicpreneur tidak datang membawa semua jawaban

Justru sebaliknya.

Kami percaya bahwa sebagian persoalan terbesar hari ini terlalu kompleks untuk diselesaikan oleh satu orang, satu perusahaan, satu institusi, bahkan satu disiplin ilmu.

Karena itu Publicpreneur ingin memulai dari sesuatu yang lebih sederhana:

mendengarkan.

Mendengarkan manusia.

Mendengarkan pengalaman.

Mendengarkan data.

Mendengarkan perubahan.

Mendengarkan bisnis.

Mendengarkan apa yang terjadi di masyarakat.

Kemudian mencoba memahami kembali apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Karena:

Before we transform, we listen.


Pertanyaan sebelum solusi

Mungkin kita tidak selalu membutuhkan jawaban yang lebih cepat.

Mungkin kita membutuhkan pertanyaan yang lebih baik.

Apa yang sebenarnya sedang berubah?

Siapa yang mulai kehilangan daya?

Di mana kesempatan mulai tertutup?

Nilai apa yang sedang hilang?

Aset apa yang sebenarnya masih ada tetapi belum digunakan?

Mengapa sebagian orang mampu beradaptasi sementara yang lain tertinggal?

Dan yang paling penting:

Apa yang dapat kita bangun bersama agar manusia tidak hanya bertahan menghadapi perubahan, tetapi tetap mempunyai kemampuan untuk menentukan masa depannya?

Kami belum tahu seluruh jawabannya.

Dan mungkin memang belum seharusnya tahu.

Karena beberapa jawaban hanya dapat ditemukan setelah kita cukup lama mendengarkan realitas.


Mungkin kita perlu sebuah meja

Sebuah ruang kecil.

Beberapa orang.

Secangkir kopi.

Satu pertanyaan.

Tidak ada panggung.

Tidak ada orang yang harus berpura-pura paling tahu.

Tidak ada pitching.

Tidak ada motivasi.

Tidak ada keharusan menghasilkan solusi.

Hanya kesempatan untuk mengatakan:

“Saya melihat sesuatu.”

“Saya mengalami sesuatu.”

“Saya tidak mengerti sesuatu.”

“Bagaimana kalau kita melihatnya dari sisi yang berbeda?”

Itulah gagasan di balik:

LET’S-MEET-COFFEE-TALKS

Come with a question. Leave with a possibility.

Karena mungkin transformasi tidak selalu dimulai dari sebuah jawaban.

Kadang ia dimulai dari keberanian untuk mengakui bahwa kita belum tahu.


PUBLICPRENEUR NOTE

Kita tidak harus memiliki semua jawaban.
Kita perlu berani mengajukan pertanyaan yang lebih baik.

Dan mungkin pertanyaan pertama kita adalah:

Kita sebenarnya sedang kehilangan apa—dan apa yang masih bisa dibangun?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *