Menolak Kehilangan Kapasitas Untuk Menentukan Masa Depan
Kita hidup di sebuah masa ketika perubahan datang lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memahaminya.
Teknologi berubah.
Pekerjaan berubah.
Cara orang mencari nafkah berubah.
Bisnis berubah.
Hubungan sosial berubah.
Dan di tengah semua itu, kita sering kali hanya bertanya:
Apa yang harus kita lakukan agar tetap bertahan?
Lebih produktif.
Lebih kompetitif.
Lebih cepat beradaptasi.
Lebih banyak belajar.
Lebih banyak menghasilkan.
Seolah-olah persoalan kehidupan dapat diselesaikan dengan membuat manusia mampu mengejar perubahan.
Apa yang hilang ketika kita terus berusaha untuk bertahan?
Keadaan kadang tak seperti tampaknya. Gaya hidup urban yang tampak normal, dengan kendaraan cicilan yang terparkir rapih, ada kecemasan massal yang mencekik.Â
Selama beberapa dekade, di rumah dan sekolah kita diajarkan sebuah narasi tunggal: “Belajar yang giat, dapatkan gelar, cari pekerjaan yang mapan, maka hidupmu akan aman.”
Namun hari ini: Kita hidup di masa ketika bekerja keras tidak lagi selalu berarti hidup lebih baik.
Kami melihat semakin banyak keluarga yang bekerja semakin keras, tetapi semakin sulit mempertahankan kualitas hidupnya.
Bahkan mungkin, satu gelombang PHK massal karena disrupsi teknologi, satu tagihan rumah sakit yang tak terduga, atau satu kesalahan tata kelola bisnis keluarga, sudah cukup untuk melempar kita menjadi kelompok rentan dalam semalam.
Tidak semua kehilangan datang dalam bentuk yang mudah dikenali.
Ada orang yang masih bekerja, tetapi mulai hilang arah.
Ada keluarga dengan anggota beragam, tetapi semakin kehilangan ikatan dan fungsi untuk saling menopang.
Ada yang masih memiliki penghasilan tinggi, tetapi tidak lagi memiliki mobilitas untuk membangun masa depan.
Ada anak yang masih memiliki cita-cita, tetapi kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya perlahan menghilang.
Ada masyarakat yang tetap berjalan, tetapi hilang rasa kebersamaan dan kepeduliannya, sulit merasakan bahwa kehidupan orang lain juga berkaitan dengan kehidupannya sendiri.
Dan, ada bisnis yang terus tumbuh, tetapi semakin jauh dari manusia yang membuatnya tumbuh.
Kehilangan tidak selalu berarti sesuatu telah pergi.
Kadang sesuatu masih terlihat ada, tetapi sudah hilang kemampuannya untuk memberi kehidupan.
Selama bertahun-tahun, kita terbiasa melihat kehidupan melalui batas-batas.
Individu.
Keluarga.
Masyarakat.
Pemerintah.
Bisnis.
Seolah-olah masing-masing memiliki urusannya sendiri.
Tetapi kehidupan tidak bekerja seperti itu.
Ia adalah satu kesatuan dengan beragam bagian dan fungsi untuk dapat memudahkan dan saling melengkapi dalam menjalani kehidupan.
Ketika daya sebuah keluarga melemah, ada keluarga lainnya yang siap membantu.
Ketika kesempatan kerja berubah, pemerintah harus bisa mengantisipasi sejak dini dan memberi jalan keluarnya.
Ketika masyarakat kehilangan rasa keterkaitan, dimana persoalan individu menjadi sulit ditanggung bersama, disini para tokoh bisa hadir untuk menguatkannya.
Ketika manusia kehilangan kemampuan untuk bergerak, bisnis pun harus bisa memberi keleluasaan.
Tidak ada bisnis yang berada di luar masyarakat.
Dan tidak ada masyarakat yang dapat berjalan tanpa aktivitas ekonomi.
Kita tidak hidup sendiri-sendiri dan saling meniadakan, tetapi saling melengkapi.Â
Karena itu, mungkin kita membutuhkan cara yang berbeda untuk melihat hubungan antara manusia, masyarakat, dan bisnis.
Bukan sebagai tiga dunia yang terpisah.
Tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang sama.
Kita terlalu lama bertanya:
Apa yang saya dapatkan?
Itu adalah pertanyaan transaksional.
Penting.
Tapi tidak cukup sampai di situ.
Ada pertanyaan lainnya:
Apa yang menjadi mungkin setelah kita bertemu?
Itu awal dari cara berpikir transformasional.
Transformasi bukan sekadar membuat sesuatu menjadi lebih besar.
Bukan sekadar meningkatkan keuntungan.
Bukan sekadar menciptakan teknologi baru.
Transformasi terjadi ketika sebuah pertemuan menciptakan kemungkinan yang sebelumnya belum ada.
Seseorang mendapatkan kembali kesempatan.
Sebuah keluarga memiliki lebih banyak daya.
Sebuah bisnis menemukan cara baru menciptakan nilai.
Sebuah masyarakat memiliki kemampuan baru untuk saling menopang.
Dan karena itu kami percaya:
Nilai tidak selalu harus berhenti sebagai transaksi.
Transaksi tanpa nilai-nilai akan berujung pada kerusakan dan kepunahan. Sedangkan transaksi dimana didalamnya penuh dengan nilai, ia akan memberi kehidupan dan keberlanjutan, itulah transformasi.
Dari kegelisahan itulah Publicpreneur lahir.
Bukan sebagai perusahaan yang ingin menjual sebuah jawaban.
Bukan sebagai komunitas yang mengajak semua orang berpikir sama.
Bukan sebagai gerakan yang merasa memiliki kebenaran.
Dan bukan pula sekadar media yang hanya menceritakan perubahan.
Publicpreneur adalah sebuah ruang untuk memahami perubahan, mempertemukan manusia, menguji kemungkinan, dan membangun sesuatu yang dapat membuat kehidupan bersama memiliki lebih banyak daya.
Karena itu kami tidak ingin selalu datang dengan solusi.
Kami ingin datang dengan pertanyaan.
Kami ingin mendengar pengalaman sebelum membuat kesimpulan.
Kami ingin melihat kenyataan sebelum membuat program.
Kami ingin mempertemukan perspektif sebelum menentukan bentuk kolaborasi.
Kami ingin membangun bersama mereka yang akan hidup dengan perubahan tersebut.
Build With, Not Just For.
Dari sinilah kami mulai melihat keberlanjutan dengan cara yang lebih luas.
Sebuah dunia tidak benar-benar berkelanjutan jika hanya sistemnya yang terus berjalan, sementara semakin banyak manusianya tidak mampu ikut bertahan di dalam sistem tersebut.
Keberlanjutan bukan hanya tentang apakah ekonomi terus tumbuh.
Bukan hanya apakah perusahaan terus berjalan.
Bukan hanya apakah sebuah institusi tetap berdiri.
Kami juga perlu bertanya:
Apakah manusia masih memiliki daya untuk hidup di dalamnya?
Apakah keluarga masih memiliki ruang untuk saling menopang?
Apakah masyarakat masih memiliki kemampuan untuk saling menguatkan?
Apakah bisnis masih mampu menciptakan nilai yang relevan dengan kehidupan manusia?
Kami percaya ada tiga ruang yang tidak boleh kehilangan kemampuannya untuk menopang kehidupan.
MANUSIA
Keluarga perlu mempunyai ruang bagi anggotanya.
Karena keluarga seharusnya menjadi tempat untuk saling menopang, bukan tempat di mana setiap orang harus menyelamatkan dirinya sendiri.
MASYARAKAT
Masyarakat dapat menjadi ruang tempat manusia memiliki daya yang tidak selalu dapat dibangun sendirian.
Ketika seseorang kehilangan pijakan, ada kebersamaan, ada kepedulian, dan ada sumber daya yang memungkinkan seseorang tetap bertahan dan bergerak.
BISNIS
Bisnis adalah bagian dari kehidupan masyarakat, bukan sesuatu yang berdiri sendiri di luar.
Karena itu bisnis memiliki kapasitas untuk menciptakan ruang, kesempatan, dan nilai yang bisa membuat lebih banyak manusia dapat bertahan dan tumbuh bersama.
Ketiganya tidak harus selalu memiliki peran yang sama.
Tetapi ketiganya memiliki kemungkinan untuk saling menguatkan.
Kami tidak percaya satu organisasi dapat menyelesaikan persoalan yang begitu besar.
Karena itu Publicpreneur tidak dibangun untuk menjadi pusat dari segala sesuatu.
Kami justru ingin membangun ruang di mana lebih banyak orang dapat membawa sesuatu ke meja.
Ada yang membawa pengalaman.
Ada yang membawa keahlian.
Ada yang membawa bisnis.
Ada yang membawa pengetahuan.
Ada yang membawa teknologi.
Ada yang membawa ruang.
Ada yang membawa jaringan.
Ada yang membawa waktu.
Ada yang membawa sumber daya.
Dan mungkin ada yang hanya membawa sebuah pertanyaan yang belum pernah didengar sebelumnya.
Semuanya memiliki kemungkinan untuk berarti
Kami membayangkan sebuah ruang di mana seseorang tidak harus datang sebagai orang yang sudah memiliki jawaban.
Ia cukup datang dengan sesuatu yang ingin dipahami.
Sebuah pengalaman.
Sebuah kegelisahan.
Sebuah kemampuan.
Sebuah kebutuhan.
Sebuah sumber daya.
Atau sebuah kemungkinan.
Di sanalah kami percaya percakapan menjadi penting.
Karena mungkin dari sebuah percakapan lahir pemahaman.
Dari pemahaman lahir hubungan.
Dari hubungan lahir kemungkinan.
Dan dari kemungkinan, sesuatu dapat mulai dibangun.
Ada empat anak.
Dimana mereka sedang berhadapan dengan kemungkinan:
Kisah ini bukan kami hadirkan untuk meminta belas kasihan.
Bukan pula untuk menjadikan mereka simbol penderitaan.
Dan bukan untuk membuktikan bahwa Publicpreneur memiliki jawaban.
Justru sebaliknya.
Kisah mereka mengingatkan kami bahwa pertanyaan-pertanyaan yang selama ini kami bicarakan bukanlah sesuatu yang abstrak.
Ketika sebuah keluarga tidak lagi memiliki cukup daya, pendidikan seorang anak dapat ikut terancam.
Ketika kesempatan semakin sulit dijangkau, masa depan seseorang dapat menyempit bahkan sebelum ia sempat memilih.
Dan ketika hal itu terjadi, kita perlu bertanya:
Apakah persoalan tersebut sepenuhnya harus ditanggung oleh keluarga itu sendiri?
Masyarakat?
Bisnis?
Orang-orang yang memiliki kemampuan?
Orang-orang yang memiliki sumber daya?
Atau mungkin kita semua, dengan sesuatu yang berbeda-beda?
Anak-anakku adalah mereka yang juga putus sekolah, namun mereka tidak putus asa. Mereka masih percaya adanya harapan bagi hari esok.
Mereka adalah alasan Manifesto ini ada. Terimakasih anak-anakku yang tidak membenciku, dan masih percaya pada apa yang kuperjuangkan.
Kami tidak tahu bagaimana kisah keempat anak ini akan berakhir.
Dan kami tidak ingin berpura-pura mengetahuinya.
Tetapi justru karena itulah kisah ini penting.
Ia memberi kami sebuah kesempatan untuk menguji apakah apa yang kami pikirkan benar-benar memiliki arti ketika bertemu kehidupan.
Apakah kepedulian dapat berubah menjadi pemahaman?
Apakah pemahaman dapat membuka kesempatan?
Apakah kemampuan seseorang dapat menemukan ruang untuk digunakan?
Apakah sebuah bisnis dapat menemukan hubungan baru antara aktivitasnya dan kebutuhan publik?
Apakah sumber daya yang selama ini berdiri sendiri dapat dipertemukan dengan kebutuhan yang nyata?
Dan apakah dari semua itu sesuatu yang lebih besar dapat lahir?
Kami belum tahu.
Kami ingin menemukannya bersama.
Mungkin kita tidak dapat memperbaiki seluruh sistem.
Tetapi kita dapat mulai dari satu kehidupan yang nyata.
Mungkin kita tidak dapat memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang akan jatuh.
Tetapi kita dapat membangun lebih banyak ruang agar seseorang tidak harus jatuh sendirian.
Mungkin kita tidak dapat memberikan semua orang masa depan yang sama.
Tetapi kita dapat membantu memastikan bahwa kesempatan untuk memiliki masa depan tidak hilang terlalu dini.
Kami masih sangat awal.
Kami masih belajar.
Masih mendengar.
Masih mencoba.
Masih menguji gagasan.
Masih menemukan siapa saja yang dapat duduk di meja yang sama.
Kami tidak datang membawa sebuah dunia yang sudah selesai.
Kami datang dengan sebuah pertanyaan:
Apa yang mungkin terjadi jika manusia, masyarakat, dan bisnis mulai melihat kehidupan sebagai sesuatu yang saling berkaitan?
Publicpreneur
Not Just an Entrepreneur.